Langsung ke konten utama

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

 


Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota.

Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya.

Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik. 

Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja.

Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan.

Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu.


Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali menuju indekos yang ku tempati. Pertemuan yang singkat dan sebentar seperti biasanya karena aku bahkan tidak bisa meminta agar kau tetap tinggal walau hanya untuk waktu yang sebentar.

Kamu bilang kamu tidak enak untuk mengantarku kemalaman. huft. Kamu bahkan terlalu manis dan sopan untuk hanya menjadikanku sekedar pelarian.


Padahal, aku tidak masalah untuk berkeliling bersamamu bahkan sampai tengah malam. Aku tidak keberatan, tapi kamu bahkan tidak memintanya.

Aku tidak keberatan sama sekali, untuk menemanimu yang tidak sesaat tapi kamu tidak pernah bertanya padaku apa aku mau untuk melakukannya.


Aku mungkin tidak sadar. Tidak sadar bahwa perasaan senang ini telah berubah menjadi perasaan sayang dan ingin memiliki. Perasaan yang harus dihindari jika kita ingin terus bersama sebagai dua orang yang bermain peran sebagai teman. Ya, hanya teman.

Hingga akhirnya, saat kusadari... ini harus selesai. Ini harus selesai karena masing-masing dari pemerannya terbawa perasaan. Ya, itulah yang dikatakan saat mengakui perasaannya. Hanya terbawa perasaan. Aku harus memaklumi itu, karena dia hanya datang kepadaku saat dunianya sedang tidak baik. Dia hanya sedang renggang saja dengan kekasihnya. Aku bahkan baru tahu itu ketika kami telah jalan satu semester lamanya.

Aku...... aku bahkan tidak bisa membencinya. Bahkan untuk waktu yang lama, aku selalu mengingatnya sebagai orang menyenangkan yang harus aku relakan. Meski tidak bersama.


Pada detik saat kuingat cerita itu kembali, aku hanya dapat mengingat dia sebagai teman lama yang tidak bisa kusapa. Aku mengingatnya sebagai bagian menyenangkan dalam hidupku, meskipun aku tidak tahu apakah dia pernah berpikir sebentar saja bahwa aku ada di dalam hidupnya.


Aku tidak ingin mengulanginya, atau menyesalinya. Aku hanya ingin mengenangnya kembali yang belakangan ini telah lama mati dalam pikiranku.

Aku tidak membenci, dan senang telah mengenalmu. Aku hanya menyayangkan waktu itu, atas ketidakjelasan sikapmu terhadapku. Ya... tapi itu sudah berlalu.


Seperti dalam tulisan yang kudapat pada cup kopi yang kau berikan;

"Jika kamu hanya sekedar singgah,

Beri aku kopi. Jangan beri aku hati."


Aku bahkan tidak mau sadar atas pertanda semesta waktu itu. Atas tulisan pada cup kopi yang kau berikan. Atas kedatanganmu yang hanya sekedar singgah. Atas ketidakjelasanmu yang harusnya membuat semuanya jelas, bahwa kamu tidak benar-benar mau kepada ku.

Atas aku yang naif karena menganggap kita sama-sama belum siap untuk lebih dari itu.


Karena semua telah berlalu dan aku telah berhasil damai dengan itu. Kini kuucapkan selamat tinggal dengan yakin. Kuucapkan selamat menjalankan hidup dan semoga hidupmu lebih bahagia dari yang kemarin. Kuucapkan dengan tulus bahwa aku hanya berharap hal-hal yang baik untukmu. Semoga kamu mendapatkan segala hal-hal baik yang bisa semesta berikan padamu.

Selamat tinggal dan terima kasih telah menemaniku untuk yang hampir itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.