Sumber: pixabay Kita Selesai; Kita yang tidak pernah menjadi kita ini mesti usai. Kita mempermainkan waktu. Waktu yang semestinya dijaga. Kita mempermainan semesta. Semesta yang sudah mengijinkan bersama. Bersama yang seharusnya tidak menjadi apa-apa. Bersama yang sepatutnya sewajarnya saja. Kita mendustainya. Harum masakan yang dibuat oleh teman menemaniku siang hari ini. Menemani aktivitas menulisku yang sesekali. Kebiasaan menulis yang hanya ketika aku sedang merasa patah hati. Mungkin ia merasa iba atas segala yang terjadi. Katanya, sudah kamu tunggu saja di ruang depan. Mesti kutuliskan bagian mana atas selesainya cerita yang tidak juga dimulai ini? Pada bagian kamu yang selalu datang kepadaku, dan sekarang meminta untuk berhenti, atau pada bagian aku menyukaimu tapi tidak sanggup kukatakan untuk jangan pergi? Atau, tidak perlu kubicarakan apa-apa lagi atas segala hal yang terjadi karena ini memang konsekuensi yang sudah kuambil? Semuanya misteri. Terlalu misteri buatku yang ...