Langsung ke konten utama

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22. 

Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya. 

Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.  

Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan.

Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor tersebut tidak mogok terlalu jauh dari tempat pekerjaan.

Aku bersyukur bahwa masih ada orang-orang di sekelilingku yang peduli dan mau menolong ketika aku dalam kesulitan meskipun tidak selalu ditampakkan.

Aku selalu mensyukuri hidupku; meski raut wajahku selalu terlihat sendu.

Aku mensyukuri dan memaknai hidupku lebih jauh mulai sekarang.

Aku bersyukur meski aku harus masuk di Sabtu dan Minggu dari sejak pagi hingga sore hari.

Aku bersyukur berangkat ketika hari masih gelap; pun pulang ketika matahari telah terbenam karena lama menunggu jemputan motor untuk masuk ke gang.

Aku bersyukur bahwa aku hanya menjalani pekerjaan internship atau sebagai pengganti ini hanya dalam jangka waktu tiga bulan.

Aku bersyukur bahwa kelak setelah selesai aku dapat memasukkan pengalaman kerjaku yang tidak seberapa ini pada form kontak riwayat hidupku.

Aku. Bersyukur. Dan tidak ada sesuatu hal pun yang mengganggu rasa syukurku. Baik hal yang memang baik maupun buruk yang terjadi dalam hidup. Aku bersyukur dengan penuh.

Aku berusaha memberikan afirmasi positif kepada diriku. Aku mengapresiasi diriku sendiri. Dan Aku yang paling tahu bahwa aku telah berusaha sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Aku paling tahu bahwa aku telah hebat bertahan sejauh ini, dan aku tidak butuh pengakuan orang lain.

Hujan di Sabtu pagi ini membuatku lebih paham makna bersyukur, dan aku berharap hal-hal baik di dalamnya. Semoga setiap hujan ini adalah keberkahan.

Allahumma shoyyiban nafian

'Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.'

Aku tersenyum selama 7 detik dan memulai hari ini dengan perasaan gembira.

Oh ya, ini juga hari ke-4 berpuasa. Ternyata aku mampu-mampu saja untuk tetap bekerja. Alhamdulillah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.