Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

Pulang

Pernah ku baca pada sebuah buku, bahwa perjalanan pulang mesti lah menyenangkan tidak terkecuali pada perjalanan pulang yang sesungguhnya. Pulang yang benar-benar pulang dan tidak kembali. Pulang kepada yang Maha Kuasa. Peristiwa mudik ke kampung yang tidak terhindarkan. Karena setiap yang bernyawa akan dicabut kembali. Dunia ini, tidak ada seujung kuku pun dari akhirat. Dunia ini hanya tempat kita mengumpulkan bekal untuk pulang ke akhirat nanti. Menyeramkan bukan? Berbicara tentang segala hal yang berhubungan dengan kematian terasa menyeramkan. Padahal, peristiwa pulang sendiri adalah hal menyenangkan yang terjadi pada setiap insan. Pulang sekolah, pulang ke rumah, pulang ke kampung halaman, pulang dari suatu tempat yang menjengkelkan merupakan hal yang kita tunggu dan nantikan. Lalu, untuk pulang yang sesungguhnya, mengapa kita tidak merasa senang? Mengapa tidak kita coba untuk menyambutnya? Dunia ini hanya persinggahan sementara. Tempat yang Maha Kuasa menguji kita entah dengan cob...

A - D

 A untuk setiap hal yang hilang A untuk setiap hal yang ingin kujaga dan A untuk sesuatu yang ingin ku genggam erat namun aku tidak pernah tahu caranya B untuk segala hal yang terlepas B untuk segala situasi yang tidak ingin aku hadapi dan B untuk aku yang mudah menyerah C untuk kamu yang tidak mengerti apapun tentangku C untuk kamu yang tidak mampu memahami caraku ingin bersama mu dan C untuk kamu yang akhirnya memilih pergi jauh Lalu, kita berhenti pada sebuah huruf yang sama-sama tidak kita tahu. D untuk pemberhentian terakhir. D untuk akhir penuh tanda tanya yang tidak pernah kuinginkan.  Seharusnya D itu milikmu. mana yang harus ku percayai; D adalah pemberhentian yang harus ku nanti, Atau justru D adalah caramu agar aku benar-benar berhenti? D selalu mengganggu dan menghantuiku setiap waktu, sehingga harus ku buat kesimpulan; D adalah pemberhentian yang tidak seharusnya ku tunggu.

Cerita Pendek 1

  Cerpen No Name Suara petir dan guntur itu kian beradu di atas bumi yang sedang gelap sebelum waktunya. Kilatan berwarna putih yang sesekali muncul dari atas langit membuat siapa saja yang melihatnya ketakutan dan bergidik ngeri. “Hei, sedang berteduh ya?” Perempuan itu menatap malas pada lelaki berjaket denim di sebelah. “Menurutmu?” Tanyanya sinis. Lelaki itu tersenyum manis menampilkan deretan giginya. “ya menurutku kamu sedang berteduh, makanya aku ikut berteduh juga padahal biasanya aku menerobos hujan dengan si begeng.” Meski terlihat malas, si perempuan tetap saja memperhatikan lelaki itu dan mendengarkan pembicaraannya. “Oh, si begeng temanmu?” “Bukan, itu motor tua pemberian ayah” Perempuan itu hanya ber “oh” ria, lalu hening kembali. “Kamu mau naik si begeng saat hujannya reda?” Tanya lelaki berjaket denim. “Untuk apa?” “Ya untuk pulang, aku akan mengantarmu,” “Maksudku jelaskan kenapa aku harus naik motormu itu. Karena aku bisa pulang sendi...

Setiap perasaan itu valid

Katanya, segala rasa yang kita miliki adalah valid dan benar adanya.. Ya, katanya. Namun, aku memilih mati dan membuang segala perasaan yang ada.. Aku memilih mati, di setiap badai, bahkan kala pelangi datang menghampiri. Aku terlalu takut buat merasakannya.. Lalu memilih untuk mati dan tak mampu merasakan apa-apa. Perasaan yang katanya valid itu tidak pernah ku dengar dari mulut siapapun, hanya ku baca pada unggahan-unggahan di internet yang seringkali lewat. Pada unggahan-unggahan video yang membuat hati teriris karena tak bisa memvalidasi perasaan sendiri.. Lalu pada hari ini, masih ku tetapkan ia untuk mati. Untuk tak merasakan apapun, dan tidak peduli tentang apa yang terjadi hingga mungkin ada yang mau repot-repot mengubah caraku menyikapi hal-hal yang terjadi dalam hidup.