Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Pagi di tengah hujan kota

pagi itu udara begitu sejuk buat siapapun enggan bangun  tapi kita harus bangkit melawan segala perasaan padahal cuacanya begitu nyaman untuk tidur kembali kasur dan guling pun begitu mpak bersekongkol katanya kamu perlu memejamkan mata sebentar saja dan terus mngulangnya "bangun sayang!" teriakan lembut seorang malaikat penyabar itu terppaksa membuatku urung melanjutkan mimpi mimpi yang sampai kapan pun cuma jadi mimpi belaka hanya ada dalam angan "ibu aku sedang bermimpi bagus"  omelnya tak terima dengan mulut mengerucut "sebagus apapun itu'kan cuma mimpi" hei, ternyata benar.  orang yang paling mungkin mematahkan sayapmu adalah orang tuamu sendiri "cepat bangun, makan dan mandi" "baik komandan" ia kembali tidur setelah ibu pergi. benar-benar anak nakal. "anak gadis kenapa belum bangun juga? anak gadis begini harusnya membantu ibu mengurus rumah, ini hanya disuruh mandi dan makan saja susah" kali ini nadanya terdengar se...

Tentang bait-bait puisi

1. Pada akhirnya; Lorong gelap itu selalu mencari cahayanya Padahal sunyi adalah ciri khas yang ia punya Tapi ia akan selalu tak tahu diri dan terus mencarinya Dia seharusnya tak menemukan itu Kepingan bola lampu kerlap kelip yang ternyata berisi api kelabu Yang akhirnya akan membawanya pada sebuah cerita sendu 2. Pada sebuah senja di malam Rabu Kala itu, kota berisi hiruk pikuk orang menjemput bahagia Padahal bahagia ada dalam lubuk hati masing-masing pemiliknya Namun standar sosial selalu jadi pemenang segala hal Di bawah lampu pijar putih itu kita bercengkrama Menunjukkan senyum terbaik satu sama lain Padahal kita sama-sama tahu itu tak bermakna Dan akhirnya, kita akan selalu terbawa perasaan Perasaan nyaman, perasaan ingin diperhatikan seperti bayi Padahal masing-masing dari kita bukan seorang ibu yang akan sabar dan siap peduli pada segala hal Maka kita berhenti Menyaksikan hari yang telah berganti Memahami bahwa segala hal akan pergi Tak terkecuali kita yang tak pernah jadi kita ...

Petuah bapak penjual es

Matahari memamerkan sinarnya dengan bangga. Suatu panas yang membuat siapa saja kehausan. Tak terkecuali aku dan teman-teman. Semua beristirahat di sebuah bale reot milik penjual es. Kami menarik napas panjang atas kegiatan hari ini. Sosialisasi dari satu sekolah ke sekolah lain. Benar-benar lelah namun ini justru menyenangkan. Pada suatu jalan dengan penjual macam-macam es dengan bale reot itu kami berhenti. Masing-masing menyebutkan pesanannya. Aku hanya mau es kelapa, ucapku pada temanku. Andi memesan semua keinginan kami. Dia bilang dia yang akan membayar. Aku tak ambil pusing dan berterimakasih karena dia menginginkan itu. Andi berjalan pada bapak-bapak penjual es yang kelihatan telah berumur. Bapak itu melontarkan guyonan-guyonan yang dibalas oleh Andi. Mereka terlihat nyaman untuk mengobrol satu sama lain. Bapak yang ramah dan Andi yang pintar menanggapi. "Paa, boleh ya kasih satu gratisan esnya- kita kan pesan banyak" ucap Andi dengan merayu bapak itu. Bapak itu terse...

Cerita Rembulan

Aku adalah gelap malam. Penuh dengan sunyi dan kegelapan. Cahaya apa itu? Diujung sana terlihat sebuah bola berekor api yang melintas lambat di angkasa. Aneh. Terlihat mau bermain-main. Tidak seperti meteor-meteor sebelumnya, bola berekor api itu diam menyapaku. Tentunya tanpa kata. Dia datang dengan sangat lambat. Lalu, bintang-bintang ikut turun cepat pada arah Selatan dan Utara. Rembulan tersenyum. Malamnya kini tidak begitu sepi lagi. Kini, benda itu tepat didepan. Ingin menyentuhnya tapi kami hanya dapat diam. Dia sangat ceria dengan apinya. Aku tenang dengan cahayaku. Kala itu waktu berhenti. Kami bercengkrama dalam sepi. Tentu saja, seperti yang sudah-sudah benda itu berlalu dari hadapan rembulan. Sial. Kenapa rembulan harus berharap meteor itu dapat dihadapannya selamanya.  Bintang-bintang ikut sedih melihat rembulan yang murung. Mereka menghiburnya dengan gemerlap dan kawanan yang banyak. Rembulan diam. Kenapa dia mengharapkan bola berekor api kala banyak cahaya-cahaya bai...

Antara Fajar dan Senja

Heii, lama tidak menyapamu. Aku, aku ingin selalu melakukan itu.  Tapi, kenapa rasanya sulit ya? Sulit untuk tidak mengharapkan balasan darimu, Fajar. Kamu tahu, yang sulit bukanlah mengetik dan mengirim semua surat elektronik itu. Tapi menunggu balasannya. Harap-harap cemas semua usaha itu akan berbuah manis. Merapal doa semoga kamu menyambutnya dengan baik. Namun sekali lagi, kita terlalu takut akan segala kemungkinan dan resiko. Padahal, kalau belum dicoba tidak akan tahu hasilnya' kan? Tapi— sekali lagi; ternyata bukan itu. Keraguanku bukan itu, Fajar. Keraguanku adalah waktu kamu memintaku untuk berhenti kemarin. Kita benar-benar seperti Fajar dan Senja yang sulit bersama. Aku senang kamu dapat selalu datang meski akhirnya tergantikan oleh kedatanganku. Aku senang bagaimana kamu selalu datang setiap harinya. Tapi hari itu; Kamu bilang ini harus selesai. Kamu dan aku tidak bisa beriringan lagi. Bagaimana dunia nantinya, Fajar? Aku kehilangan duniaku. Setelah hari itu hari-hari ...

Salam pembuka

Hai semua, aku cuma mau publish tulisanku selama ini. Tulisan penuh makna yang sangat berarti bagi diriku sendiri. Tulisan dari seorang anak random yang pelupa. Kuharap semua kenangan itu nggak hilang meskipun selalu memudar. Aku nggak tahu, mungkin kamu tidak akan mengaggap ini penuh makna, atau malah kamu tidak suka dengan itu. But after all; Terimakasih sudah mampir. Aku senang. Walau hanya singgah sebentar. Eits, beluum. Belum sampai kesana. Maksudku terimakasih sudah mampir pada halaman ini. Nanti kuceritakan gimana. Hope you enjoy and feeling good Like a sutt~~