Sumber: pixabay
Kita Selesai;
Kita yang tidak pernah menjadi kita ini mesti usai.
Kita mempermainkan waktu. Waktu yang semestinya dijaga.
Kita mempermainan semesta. Semesta yang sudah mengijinkan bersama. Bersama yang seharusnya tidak menjadi apa-apa. Bersama yang sepatutnya sewajarnya saja. Kita mendustainya.
Harum masakan yang dibuat oleh teman menemaniku siang hari ini. Menemani aktivitas menulisku yang sesekali. Kebiasaan menulis yang hanya ketika aku sedang merasa patah hati. Mungkin ia merasa iba atas segala yang terjadi. Katanya, sudah kamu tunggu saja di ruang depan.
Mesti kutuliskan bagian mana atas selesainya cerita yang tidak juga dimulai ini?
Pada bagian kamu yang selalu datang kepadaku, dan sekarang meminta untuk berhenti, atau pada bagian aku menyukaimu tapi tidak sanggup kukatakan untuk jangan pergi?
Atau, tidak perlu kubicarakan apa-apa lagi atas segala hal yang terjadi karena ini memang konsekuensi yang sudah kuambil? Semuanya misteri. Terlalu misteri buatku yang hanya menerimamu kembali.
Aku menyayangkan kamu pergi. Aku tidak ingin kamu pergi. Aku maunya kamu tetap disini. Tapi, tidak sanggup kukatakan barang satu kalimat saja untuk menahanmu disini.
Ungkapan-ungkapan atas perasaanku juga tidak boleh kulontarkan kepadamu. Tidak adil, Tuan. Kamu bebas mengungkapkan segala hal yang kamu mau dan kamu rasa, tapi aku tidak. Aku tidak bisa begitu. Memang, kodratnya lelaki. Mereka hanya ingin mencintai. Mereka tidak peduli apapun ketika melakukannya. Dan, mereka juga tidak ketika mereka tidak lagi. Mereka tidak memperdulikanmu ketika mereka tidak lagi mencintai. Kamu tidak bisa merubah apa-apa yang telah mereka putuskan. Sudah seharusnya memang tidak membuang energi untuk menahan lelaki yang ingin pergi. Lepaskan, lepaskan.
Tidak ingin kutuliskan hal-hal manis ketika itu usai. Tidak akan ku buat dramatis seolah aku sangat ingin waktu itu terjadi kembali. Karena pada akhirnya, perpisahan membawa semuanya pergi. Cerita kemarin itu tidak lagi berarti. Kehilangan makna, dan tidak ada artinya.
Dimulai ataupun tidak. Sangat spesial kemarin ataupun tidak. Begitu indahnya kemarin atau tidak. Ketika usai, semua hal bukan apa-apa. Perpisahan adalah arus. Arus yang menggerus semua hal hilang. Arus yang memaksa untuk mengganti segala hal yang telah ada. Perpisahan membuat semuanya jelas, kalau masa kini adalah yang paling penting dari suatu waktu. Hal yang telah usai tidak perlu ditangisi kenapa harus berhenti, hal yang telah pergi biarkan semestinya seperti tidak ada yang terjadi.
Perpisahan adalah tanda. Tanda bahwa segala sesuatu telah berakhir dan mesti diakhiri. Perpisahan tidak selalu buruk, karena akan selalu ada awal setelahnya.
Selamat tinggal, my almost lover.

Komentar
Posting Komentar