Langsung ke konten utama

Maaf, aku mengulang buku itu lagi

 

(Sumber: https://pixabay.com/photos/flower-autumn-garden-plant-nature-4425488/)

    Ceritanya tetap sama. Bukunya itu-itu saja. Tidak ada yang berubah. Buku usang itu masih memiliki daya pikatnya sendiri untukku. Padahal sudah kujanjikan untuk tidak membuka halamannya, karena aku akan menangis ketika sampai pada BAB-BAB yang tidak kusuka. Buku itu meminta dibaca kembali olehku, padahal tidak mampu memberikan akhir yang aku mau. 

Buku usang favoritku. Cerita lama yang aku idamkan sejak dulu.
Buku usang yang tidak mampu aku simpan rapat-rapat agar tidak membuatku sesak.
Buku usang yang masih sama, namun berani-beraninya kubuka ketika aku telah mengetahui akhir cerita sedihnya.

    Sayangnya, itu bukan sekedar buku. Bukan pula sekedar cerita lalu. Itu soal perasaan yang tidak juga hilang.Soal perasaan yang seharusnya tidak lagi dirasakan. Itu bukan buku. Itu bukan cerita semata. Iu adalah kisah yang pernah dilalui sebelumnya. Kali ini bahkan telah diketahui akhirnya.

    Jam dinding menunjukan waktu 00:45 yang berarti waktu dini hari telah tiba. Tidak kunjung kutemukan sapaan berikutnya. Sudah tahu ini hanya sekedar, namun berharap begitu banyak. Kamu membiarkan hatimu kosong secara setengah-setengah. Setengahnya tidak ingin diisi oleh siapa-siapa, lalu setengahnya terbuka lebar oleh seseorang yang tidak jelas maunya apa.
    Entah kali ke berapa kamu terus saja bernasib sama. Mengulang sesuatu yang jelas-jelas akhirnya akan menyakitimu. Maaf itu seharusnya ditujukan kepada dirimu sendiri. Maaf karena selalu mengutamakan perasaan ketimbang hal-hal yang lebih baik untuk dirimu sendiri. Maaf karena tidak baik kepada diri sendiri. Maaf karena terus menyakiti dengan meyakini harapan-harapan yang sudah jelas tidak pasti.
    Maaf, aku mengulang buku itu lagi. Maaf karena meskipun telah kau peringatkan, aku tetap mau melanjutkan. Maaf untuk menjadi egois kali ini. Maaf karena ingin memiliki meski hanya sesaat. Maaf, karena hanya mampu kuucapkan kata maaf atas segala yang terjadi. Maaf telah membuka jalan untuk semuanya menjadi kacau dan berantakan.
    Maaf meski telah kuucapkan kata maaf pun, aku akan tetap melanjutkan ini. Bukunya belum selesai kubaca. Aku tidak berharap banyak kali ini. Hanya ingin menikmatinya sampai itu benar-benar usai. Buku itu memiliki tokoh yang kuidamkan. Meski aku tahu dia akan selamanya menjadi tokoh legenda yang hanya mampu kusuka. Dahulu kubilang, sudah kututup buku itu dan sudah kuikhlaskan segalanya. Tapi kali ini, buku itu terbuka begitu saja. Buku favoritku. Aku sangat sadar bahwa hatiku akan sakit ketika aku membacanya. Tapi, sudah kuterima konsekuensi itu sejak awal. Aku kembali membuka buku itu dan merindukan tokohnya setiap waktu. Tapi tokohnya masih tetap tak bisa kugapai karena itu hanya ada dalam buku. Hanya ada dalam imajinasiku.
    Buku ini sebenarnya hanyalah ibarat. Kisah lalu yang kubuka kembali. Aku sudah sangat tahu konsekuensi atas kebodohan yang kuperbuat. Hal menyenangkan bersama tokoh favoritku yang tidak bisa menjadi lebih dari itu. Kami hanya mampu berbagi sebatas tawa dan duka. Lebih dari makna antara dua insan belum mampu kami lakukan. Aku harus bersiap kehilangan pada saat aku mensyukuri keberadaannya disekitarku. Ini tidak adil tuan. Tapi, katanya, dunia ini memang tempatnya ketidakadilan.
    Ini bukan buku. Tidak. Bukan pula cerita fiksi yang kubuat. Ini adalah ungkapan atas keresahanku terhadap sesuatu yang tengah kulakukan. Aku mengulanginya. Kesalahan menerimanya untuk hanya sekedar menjadi teman. Kesalahan yang tampaknya senang sekali aku lakukan tanpa rasa bersalah. Aku minta maaf. Aku tidak ingin berdalih atas dasar perasaan tidak bisa disalahkan. Hanya sementara. Hanya sementara nona, aku meminjamnya. Setidaknya sampai studiku selesai. Sampai kutinggalkan kota rantauanku sehingga aku tidak bisa lagi untuk sekedar berharap bertemu dia secara tiba-tiba. Sampai saat itu saja aku berani untuk tetap menjadi temannya yang akan siap sedia ketika dia membutuhkan pertolongan. Hanya sampai saat itu dan setelahnya aku berjanji akan benar-benar melepasnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.