Langsung ke konten utama

Antara Fajar dan Senja

Heii, lama tidak menyapamu.
Aku, aku ingin selalu melakukan itu. 
Tapi, kenapa rasanya sulit ya?

Sulit untuk tidak mengharapkan balasan darimu, Fajar.
Kamu tahu, yang sulit bukanlah mengetik dan mengirim semua surat elektronik itu. Tapi menunggu balasannya.

Harap-harap cemas semua usaha itu akan berbuah manis. Merapal doa semoga kamu menyambutnya dengan baik. Namun sekali lagi, kita terlalu takut akan segala kemungkinan dan resiko.

Padahal, kalau belum dicoba tidak akan tahu hasilnya' kan?

Tapi— sekali lagi; ternyata bukan itu. Keraguanku bukan itu, Fajar.
Keraguanku adalah waktu kamu memintaku untuk berhenti kemarin.

Kita benar-benar seperti Fajar dan Senja yang sulit bersama. Aku senang kamu dapat selalu datang meski akhirnya tergantikan oleh kedatanganku. Aku senang bagaimana kamu selalu datang setiap harinya.

Tapi hari itu;
Kamu bilang ini harus selesai. Kamu dan aku tidak bisa beriringan lagi. Bagaimana dunia nantinya, Fajar?

Aku kehilangan duniaku. Setelah hari itu hari-hari jadi sendu. Bumi seperti kehilangan porosnya. 

Senja telah kehilangan separuh dirinya. Dia bergumam; untung cuman separuh. Padahal, Senja kala itu sangat kebingungan apa hidup masih bisa berjalan dan bagaimana mengatasi semua ini.

Dia masih bingung sampai sekarang. Fajar itu telah mengisi dunianya dan mempunyai tempat tersendiri.

Dia mau menyapa Fajar;
Bukan untuk sekali lagi, tapi untuk setiap waktu dan selamanya. Naasnya Fajar itu justru mau selamanya pergi dan tidak ingin ditemui kembali.

Jahat. Ini tidak tahu Fajar yang jahat atau ekspetasi Senja sendiri yang terlalu besar. Dia sudah masuk terlalu jauh dalam dunianya Senja, harusnya wajar bagi Senja untuk merasa kehilangan.

Pada malam-malam itu; Senja selalu bergumam "aku merindukanmu. Setiap hari"

Tapi, apa Fajar pernah tahu?

Pernah. Senja tidak akan menyerah begitu saja. Jadi, Senja mencobanya. Sesuai bagian sebelumnya; dia meminta Senja untuk berhenti.

Senja berhenti; tidak pernah benar-benar berhenti. Hanya berhenti berusaha dan berhenti menampilkannya.

Senja selalu mencintai Fajar dan berharap dia kembali.

Tapi tidak mungkin, kata lelaki itu. Kita tidak bisa lebih dari ini. Padahal, Senja tidak pernah keberatan untuk tidak menjadi lebih asalkan dia bisa melihat Fajar berkali-kali lagi.

Dia tidak pernah keberatan. Dia mau membantu Fajar bagaimanapun keadaannya. Dia mencintai Fajar tanpa syarat dan tanpa tapi.

Fajar tak pernah tahu itu. Tak pernah mau tahu. Dia cuman mau pergi.

Senja juga tidak marah akan hal itu. Hanya kecewa. Dia kecewa ternyata berharap terlalu banyak. Senja memang selalu begitu. Menyalahkan dirinya atas segala hal.

Fajar pasti pergi karena Senja tidak cukup baik. Itu cukup. Cukup menjadi alasan Senja untuk berhenti. Berhenti dari semua khayalan yang sampai kapanpun cuman sebatas angan.

Terimakasih. Terimakasih karena pernah hadir dan memberi warna pada hidupku yang jingga ini. Hidup yang tak juga memberikan warna lain dihariku.

Kamu adalah hadiah dari semesta, Fajar. Mana mungkin aku mau menyalahkanmu karena kamu pergi. Pasti semesta sudah menarik kembali hadiahku.

Maka, berbahagialah tanpaku. Aku sangat bahagia atas kehadiranmu yang singkat itu. Meskipun kamu bahkan nggak memberi kesempatan untuk aku merasakan sakit hati oleh cinta. Karena yang ada hanyalah kecewa oleh harapanku sendiri.

Kamu tidak salah. Kamu adalah hadiah yang selama ini kupinta. Sekali lagi, terimakasih.
Senang telah mengenalmu dengan baik dalam waktu singkat.

Aku mencintaimu. 


-cerita Senja dan Fajar yang hanya bisa bertemu-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.