Aku adalah gelap malam. Penuh dengan sunyi dan kegelapan.
Cahaya apa itu?
Diujung sana terlihat sebuah bola berekor api yang melintas lambat di angkasa. Aneh. Terlihat mau bermain-main.
Tidak seperti meteor-meteor sebelumnya, bola berekor api itu diam menyapaku. Tentunya tanpa kata.
Dia datang dengan sangat lambat. Lalu, bintang-bintang ikut turun cepat pada arah Selatan dan Utara.
Rembulan tersenyum. Malamnya kini tidak begitu sepi lagi.
Kini, benda itu tepat didepan. Ingin menyentuhnya tapi kami hanya dapat diam.
Dia sangat ceria dengan apinya. Aku tenang dengan cahayaku. Kala itu waktu berhenti.
Kami bercengkrama dalam sepi.
Tentu saja, seperti yang sudah-sudah benda itu berlalu dari hadapan rembulan.
Sial. Kenapa rembulan harus berharap meteor itu dapat dihadapannya selamanya.
Bintang-bintang ikut sedih melihat rembulan yang murung. Mereka menghiburnya dengan gemerlap dan kawanan yang banyak.
Rembulan diam. Kenapa dia mengharapkan bola berekor api kala banyak cahaya-cahaya baik hati yang mau menerangi malam bersamanya.
Rembulan kembali bersinar. Tak boleh lagi didapati rembulan mengharapkan bola api ada bersamanya.
Kemarin adalah yang terakhir -janjinya untuk yang kesekian kali
Kita memang begitu'kan? Selalu mengucap yang kemarin adalah terakhir tapi ujung-ujungnya selalu melakukan kesalahan yang sama.
Siapa yang harus disalahkan? Diri sendiri. Tapi jangan terlalu keras pada dirimu. Lagipula, semua orang begitu.
Yang paling banyak menyakiti ternyata adalah diri sendiri. Lewat ekspetasi, harapan yang terlalu banyak pada orang yang salah, waktu yang terbuang sia-sia dan banyak hal tidak menyenangkan dalam hidup yang ternyata disebabkan oleh diri sendiri.
Seharusnya kita berhenti menyalahkan orang lain dan belajar memaafkan diri sendiri.
Don't be yourself but find your best life.
Komentar
Posting Komentar