Langsung ke konten utama

Cerita Rembulan

Aku adalah gelap malam. Penuh dengan sunyi dan kegelapan.

Cahaya apa itu?

Diujung sana terlihat sebuah bola berekor api yang melintas lambat di angkasa. Aneh. Terlihat mau bermain-main.

Tidak seperti meteor-meteor sebelumnya, bola berekor api itu diam menyapaku. Tentunya tanpa kata.

Dia datang dengan sangat lambat. Lalu, bintang-bintang ikut turun cepat pada arah Selatan dan Utara.

Rembulan tersenyum. Malamnya kini tidak begitu sepi lagi.

Kini, benda itu tepat didepan. Ingin menyentuhnya tapi kami hanya dapat diam.

Dia sangat ceria dengan apinya. Aku tenang dengan cahayaku. Kala itu waktu berhenti.
Kami bercengkrama dalam sepi.

Tentu saja, seperti yang sudah-sudah benda itu berlalu dari hadapan rembulan.

Sial. Kenapa rembulan harus berharap meteor itu dapat dihadapannya selamanya. 

Bintang-bintang ikut sedih melihat rembulan yang murung. Mereka menghiburnya dengan gemerlap dan kawanan yang banyak.

Rembulan diam. Kenapa dia mengharapkan bola berekor api kala banyak cahaya-cahaya baik hati yang mau menerangi malam bersamanya.

Rembulan kembali bersinar. Tak boleh lagi didapati rembulan mengharapkan bola api ada bersamanya. 


Kemarin adalah yang terakhir -janjinya untuk yang kesekian kali

Kita memang begitu'kan? Selalu mengucap yang kemarin adalah terakhir tapi ujung-ujungnya selalu melakukan kesalahan yang sama.

Siapa yang harus disalahkan? Diri sendiri. Tapi jangan terlalu keras pada dirimu. Lagipula, semua orang begitu.

Yang paling banyak menyakiti ternyata adalah diri sendiri. Lewat ekspetasi, harapan yang terlalu banyak pada orang yang salah, waktu yang terbuang sia-sia dan banyak hal tidak menyenangkan dalam hidup yang ternyata disebabkan oleh diri sendiri.

Seharusnya kita berhenti menyalahkan orang lain dan belajar memaafkan diri sendiri. 

Don't be yourself but find your best life.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.