Langsung ke konten utama

Petuah bapak penjual es

Matahari memamerkan sinarnya dengan bangga. Suatu panas yang membuat siapa saja kehausan. Tak terkecuali aku dan teman-teman.

Semua beristirahat di sebuah bale reot milik penjual es. Kami menarik napas panjang atas kegiatan hari ini. Sosialisasi dari satu sekolah ke sekolah lain. Benar-benar lelah namun ini justru menyenangkan.


Pada suatu jalan dengan penjual macam-macam es dengan bale reot itu kami berhenti. Masing-masing menyebutkan pesanannya. Aku hanya mau es kelapa, ucapku pada temanku.


Andi memesan semua keinginan kami. Dia bilang dia yang akan membayar. Aku tak ambil pusing dan berterimakasih karena dia menginginkan itu.


Andi berjalan pada bapak-bapak penjual es yang kelihatan telah berumur. Bapak itu melontarkan guyonan-guyonan yang dibalas oleh Andi. Mereka terlihat nyaman untuk mengobrol satu sama lain. Bapak yang ramah dan Andi yang pintar menanggapi.


"Paa, boleh ya kasih satu gratisan esnya- kita kan pesan banyak" ucap Andi dengan merayu bapak itu.


Bapak itu tersenyum dan langsung memberikan tambahan satu bungkus es kepada kami tanpa mendebatnya. Bapak itu bilang "nah gini kalau mau ya ngomong aja".


"Emang kenapa pak?" 


"Soalnya, penyesalan diwaktu muda itu adalah tidak mengungkapkan apa yang kita inginkan" ucap bapak-bapak itu
"Mengungkapkan apa saja, mengungkapkan kasih sayang misalnya." Tambah beliau.
"Selagi orang tua kalian masih ada maka sayangi mereka, penyesalan datang diakhir"
"Masa muda boleh saja dilalui kemana saja asal tetap ingat orang tua, mereka menunggumu dirumah."

Kami semua tertegun. Aku bergeming dan semua tentang apa yang tidak aku ucapkan terputar seolah kaset rusak. 

Bagaimana ini? Aku saja sedang berada di kota orang. Ibu dan ayah pasti mengkhawatirkan aku setiap hari.

Namun, Andi tidak diam. Dia terus menyahuti apa saja ucapan bapak-bapak itu. "Termasuk perasaan sayang sama seseorang ya, Pa?"

"Ya jelas, apalagi itu."
"Siapa tahu kan, dia juga ada rasa sama terhadap kita"

Andi terlihat berpikir. "Wah kalo gitu saya harus cepat-cepat ungkapin nih Pak"

"Nggak usah buru-buru, santai saja asal tidak dibiarkan pergi"

"Ashiap" kata Andi menimpali.
"Makasih ya Pa, atas es tambahan dan nasihatnya!" 

Kami semua duduk di bale reot. Terasa cukup. Tubuh yang istirahat sejenak ditemani teman-teman dan es dingin penghilang dahaga ini sungguh cukup. Angin sepoi-sepoi adalah bonusnya.

Apa aku belum mengungkapkan sesuatu pada seseorang?
Kalau iya, pada siapa? Untuk apa? Rasa yang bagaimana?

Ah. Aku menyerah dari fantasi ini dan memainkan sebuah game yang berada dalam ponsel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.