1.
Pada akhirnya;
Lorong gelap itu selalu mencari cahayanya
Padahal sunyi adalah ciri khas yang ia punya
Tapi ia akan selalu tak tahu diri dan terus mencarinya
Dia seharusnya tak menemukan itu
Kepingan bola lampu kerlap kelip yang ternyata berisi api kelabu
Yang akhirnya akan membawanya pada sebuah cerita sendu
2.
Pada sebuah senja di malam Rabu
Kala itu, kota berisi hiruk pikuk orang menjemput bahagia
Padahal bahagia ada dalam lubuk hati masing-masing pemiliknya
Namun standar sosial selalu jadi pemenang segala hal
Di bawah lampu pijar putih itu kita bercengkrama
Menunjukkan senyum terbaik satu sama lain
Padahal kita sama-sama tahu itu tak bermakna
Dan akhirnya, kita akan selalu terbawa perasaan
Perasaan nyaman, perasaan ingin diperhatikan seperti bayi
Padahal masing-masing dari kita bukan seorang ibu yang akan sabar dan siap peduli pada segala hal
Maka kita berhenti
Menyaksikan hari yang telah berganti
Memahami bahwa segala hal akan pergi
Tak terkecuali kita yang tak pernah jadi kita ini
Meskipun tak pernah benar-benar jadi, kita harus pergi, berhenti dan berpisah karena menyerah pada waktu yang harus usai.
3 .
Sebuah celotehan ibu-ibu
Pagi-pagi buta itu para ibu sudah sibuk menyiapkan keperluan keluarga
Menunjukkan bagaimana kasih sayang tak terhingga
Meski juga tak diucapkan
Hanya ada teriakan-teriakan pagi itu yang membangunkan segala benda hidup di rumah.
Termasuk kitty, dia mencari wishkas karena telah terbangun dari tidurnya. Kucing gendut pemalas itu tak juga sadar dan ingin diet. Dia terus asik mencari makan, tiduran, dan lagi-lagi makan serta mengganggu kami.
Ibu menatap sayang pada kami semua ketika pamit. Lihatlah betapa tegarnya ibu rumah tangga ini. Dia harus rela melepas kami pergi setelah susah-susah mengurus semuanya. Lagi-lagi dia akan sendirian. Dengan alunan musik sedih yang sesekali tertangkap.
Kami, sayang ibu. Karena keluarga adalah simbol kasih sayang tanpa kata.
Komentar
Posting Komentar