Langsung ke konten utama

Tentang bait-bait puisi





1.


Pada akhirnya;
Lorong gelap itu selalu mencari cahayanya
Padahal sunyi adalah ciri khas yang ia punya
Tapi ia akan selalu tak tahu diri dan terus mencarinya

Dia seharusnya tak menemukan itu
Kepingan bola lampu kerlap kelip yang ternyata berisi api kelabu
Yang akhirnya akan membawanya pada sebuah cerita sendu



2.
Pada sebuah senja di malam Rabu
Kala itu, kota berisi hiruk pikuk orang menjemput bahagia
Padahal bahagia ada dalam lubuk hati masing-masing pemiliknya
Namun standar sosial selalu jadi pemenang segala hal

Di bawah lampu pijar putih itu kita bercengkrama
Menunjukkan senyum terbaik satu sama lain
Padahal kita sama-sama tahu itu tak bermakna
Dan akhirnya, kita akan selalu terbawa perasaan

Perasaan nyaman, perasaan ingin diperhatikan seperti bayi
Padahal masing-masing dari kita bukan seorang ibu yang akan sabar dan siap peduli pada segala hal

Maka kita berhenti
Menyaksikan hari yang telah berganti
Memahami bahwa segala hal akan pergi
Tak terkecuali kita yang tak pernah jadi kita ini

Meskipun tak pernah benar-benar jadi, kita harus pergi, berhenti dan berpisah karena menyerah pada waktu yang harus usai.




3 .
Sebuah celotehan ibu-ibu
Pagi-pagi buta itu para ibu sudah sibuk menyiapkan keperluan keluarga
Menunjukkan bagaimana kasih sayang tak terhingga
Meski juga tak diucapkan
Hanya ada teriakan-teriakan pagi itu yang membangunkan segala benda hidup di rumah.

Termasuk kitty, dia mencari wishkas karena telah terbangun dari tidurnya. Kucing gendut pemalas itu tak juga sadar dan ingin diet. Dia terus asik mencari makan, tiduran, dan lagi-lagi makan serta mengganggu kami.

Ibu menatap sayang pada kami semua ketika pamit. Lihatlah betapa tegarnya ibu rumah tangga ini. Dia harus rela melepas kami pergi setelah susah-susah mengurus semuanya. Lagi-lagi dia akan sendirian. Dengan alunan musik sedih yang sesekali tertangkap.

Kami, sayang ibu. Karena keluarga adalah simbol kasih sayang tanpa kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.