Langsung ke konten utama

Aku Menyayangimu dan Aku Melepasmu

Agustus 2019

siang itu, aku ingat betul pertama kali kamu datang padaku. Datang buat keperluan yang sebenarnya nggak penting, tapi aku nggak peduli. Aku tetap mau menyambutmu untuk sekedar memperlakukanmu dengan baik.

Lama-kelamaan, kamu selalu datang dengan alasan konyol yang tidak pernah kupermasalahkan, karena aku akan terus menerimamu kembali dengan senang hati. Niat awal yang sekedar bantu kini berubah jadi aku dan kamu yang saling butuh.

Kita, maksudku kau dan aku terus menjalani hubungan ini tanpa kejelasan yang pasti. Karena buatku, denganmu sudah cukup. Buatku, didekatmu sudah buat aku senang sekali rasanya. Tapi, ternyata ini adalah jalan salah yang telah diambil. Karena kedepannya akan ada banyak kata seharusnya yang dikeluarkan oleh kita berdua, seperti

Seharusnya aku tak menerimamu datang waktu itu
Seharusnya aku tak memilihmu waktu itu
Seharusnya kita cukup mengenal saja
Seharusnya tak perli ada interaksi berlebih

Daaan, masih banyak lagi kata 'seharusnya' yang bersarang di kepala yang tak pernah disampaikan. Namun begitu, kamu sudah sangat baik padaku. Jujur, tak kusesali pertemuan itu meski kehilanganmu membuatku sesak. Padahal kamu tidak pernah ada, tidak pernah benar-benar disini menemaniku. Tapi, aku merasa kehilangan. Maafkan aku yang terlalu perasa ini.

Oh, ya. Kamu selalu bertanya, apa kamu senang aku ajak pergi keluar?, senang, aku sangat senang waktu itu. Kamu tidak tahu betapa senangnya aku mendapat seseorang yang mau temani aku mengatasi rasa sepi yang selama ini telah menyiksaku. Aku sangat senang begitu kamu datang. Sangat. Andai saja saat itu aku jujur dan mau memberitahu. Tapi aku terlalu takut. Aku hanya membalas senang dengan nada biasa, padahal aku benar-benar senang dan kurasa semua temanku mengetahui apa yang kurasa. Aku hanya bingung kenapa kamu bertanya begitu, padahal jelas-jelas aku sudah menunjukkannya.

Tapi, kini kamu pergi dengannya. Agak kesal karena membuatku merasa terbuang. Membuatku merasa bahwa aku tidak cukup baik buat seseorang. Tapi gak apa-apa, itu pilihanmu. Kamu selalu dapat membuat orang merasa nyaman dan senang di satu waktu dan aku hanya salah satu orang yang mendapat kesempatan itu.

Gak apa-apa. Aku telah belajar untuk ikhlas dan menerima semuanya. Bagiku kamu adalah hadiah dan pembelajaran berharga.
Terimakasih. terimakasih karena pernah ada
Terimakasih telah buatku senang meski sementara saja
Terimakasih sudah pernah mau menemaniku.
meski hanya berteman saja
Aku senang telah mengenalmu,
Kamu akan selalu ada dalam kenangan,
dan tak pernah usai.
Terimakasih karena sangat baik kepadaku,
Aku menyayangimu


Dan ini, ternyata sudah harus usai disini. Pada titik ini, pada saat aku sadar aku telah menyayangimu aku sadar bahwa aku harus melepasmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.