Langsung ke konten utama

Kebenaran yang harus diterima

Malam itu, seperti biasa. Kamu sedang menggenggam handphone berharap ada kabar darinya,

Satu menit
Dua menit
Lima menit

Kamu akhirnya mendapat balasan pesan darinya. Tapi, bukan itu balasan yang kamu harapkan.

Saat kau dengan hati lapang menanyakan mengenai kejelasan hubungan terlebih dahulu, namun dia justru hanya bisa mengecewakan dan menghancurkan;

"Maaf, aku sudah punya perempuan. Kami sudah jalan hampir 5 tahun."

Balasan macam apa itu. Saat kamu bahkan hanya menerima perlakuan manis darinya. Saat dia yang mendekatimu terlebih dulu. Saat dia yang seolah sangat membutuhkanmu dan memperlakukanmu spesial, ternyata ia tak tulus denganmu.

Aku mencarimu, karena aku ingin menghilangkan Sepi dan penatku, katanya.

"Maafkan aku, maaf. Tetaplah jadi temanku, ya?" Katanya saat kutemui waktu itu.

Aku hanya tersenyum paksa. Aku sangat menyayanginya tetapi dia hanya anggap aku sebagai teman saja. 

Kubilang, aku butuh waktu. Kalau memang ada kesempatan buat ketemu, aku mau-mau saja. Padahal tidak, sejak saat itu kuputuskan buat pergi menjauh. Karena ini terlalu menyakitkan buatku.

Bagaimana rasanya, saat sedari awal kamu telah kesepian dan ada yang menarikmu dari sisi gelap itu namun kini kembali menghempasmu secara paksa,
Karena dia membuangmu begitu saja.
Bagaimana rasanya saat kau mau untuk memberikan segalanya tapi bahkan dia tak pernah minta?
Bagaimana rasanya seolah kau sangat spesial kemarin lalu hari ini menjadi yang paling tidak dibutuhkan?

Bajingan, dia begitu jahat namun tak juga merasa.

Dia bilang ingin bersama dengan perempuannya itu namun tak juga membiarkan aku pergi dari hidupnya,
Setidaknya ijinkan aku lepas dari bayangmu karena sebenarnya kamu memang tidak pernah ada buatku.

Aku terima kebenaran darimu ini, dan pada titik ini kuputuskan buat pergi.
Terimakasih. Terimakasih telah membuatku seperti sampah yang terbuang.
Hari ini aku membencimu, tapi aku yakin kedepannya aku hanya dapat merindukanmu.

Berbahagialah, supaya tidak kembali mencariku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.