Langsung ke konten utama

Selamat menjalani hidup, ya!

Lagi-lagi, aku merindukanmu. Setiap malam. Rasanya masih sama dan tak pernah hilang, atau mungkin bertambah.

Tapi hei, meski begitu aku tak akan mengganggu. Perihal rindu ini biar jadi urusanku. Akan kusimpan rapat meski ia selalu minta buat diungkap, agar mereda karena rindu ini tak pernah benar-benar hilang. Ia selalu datang.

Aku juga sudah mendoakannya. Mendoakan supaya dia baik-baik saja karena aku tak bisa lagi disampingnya atau bahkan bertanya mengenai kabarnya. Aku sudah tak sanggup. Itu bukan wewenang ku lagi. Karena kini, dia pun sudah membatasi diri dariku. Gak apa-apa.

Kayaknya, permintaan untuk tetap jadi temanmu itu justru hanya sekedar kalimat kosong, atau mungkin kalimat dari rasa bersalah yang muncul darimu. Aku nggak ngerti. Karena justru kamu yang pergi setelah memintaku untuk tetap disini, memintaku buat tetap jadi teman setelah segala hal yang terjadi.

Aku nggak mempermasalahkan semuanya. Karena seperti yang sudah kubilang, denganmu sudah cukup. Entah itu sebagai teman, atau hanya sekedar penghilang penatmu pun, nampaknya nggak apa. 

Karena aku menyayangimu dengan tulus. Kalau kamu pilih dia, itu memang membuatku sesak tapi itu juga bukan masalah. Selagi kamu masih ada di bumi, aku masih tetap senang.

Kayaknya pertanyaan seputar gimana keadaanmu cukup jadi pertanyaan dalam hatiku saja. Karena akan ada harapan-harapan yang muncul setelah bertukar kabar. Akan ada rindu yang mendesak untuk ikut diungkapkan dan dibuat sirna. Akan ada rasa sesak lagi, karena kenyataan yang ada.

Yah, kenyataan memang pahit. Aku tidak pernah mengira akan bertemu orang seperti kamu; yang membuatku kesal tapi juga ingin selalu didekatmu satu waktu. Berpisah denganmu padahal juga nggak pernah benar-benar bersama.

Aku hanya senang denganmu, kukira perasaanku cukup sampai disitu. Tapi ternyata rasa senang itu malah berubah menjadi rasa sayang dan takut kehilangan. Rasa ini justru yang membuat kita harus selesai. Sebelum waktu. Sebelum dimulai. Atau mungkin seharusnya nggak selesai karena memang nggak ada apapun yang terjadi.

Aku nggak ngerti. Karena yang ku tahu cuma, rasa ini terjadi begitu saja tanpa bisa ku cegah. Rasa ini begitu deras dan aku masih mencari ujungnya agar bisa menutup semuanya. Menutup kisah yang baru hendak ku mulai, namun ternyata kisah itu menolak buat dituliskan. Kisah itu tak memiliki cerita yang cukup bagus, mungkin. Atau alurnya tidak jelas. 
Sekali lagi kukatakan, aku tidak mengerti.

Karena sebenarnya dia yang memegang kendali, dia yang memilih buat memulai cerita ini tapi juga dia pergi saat semuanya sudah hampir jadi. Dia pergi meninggalkan tanda tanya. Dia pergi setelah menyetujui menjadi perannya. Dia pergi saat segalanya hampir dimulai.

Jadi, mau bagaimanapun cerita ini tidak ada. Bukan usai. Namun memang tidak ada dan tidak jadi dituliskan. Hanya sayang saja, karena nyaris dan begitu menyita segalanya. Cerita yang hampir namun juga sangat disayangkan.

Hei, aku selalu merindukanmu. Namun aku juga tahu bahwa aku tidak boleh. Akan kucoba merelakan cerita yang hampir itu. 

Dengan atau tanpamu, aku baik-baik saja. Dan kamu pasti jauh lebih baik dariku.
Aku masih berada di ceritaku sendiri, cerita yang belum mengijinkan orang lain masuk kedalamnya.

Kuharap, ceritamu berakhir indah. Masalah ceritaku, aku masih memintanya pada yang lebih berkehendak. Semoga segera dibuatkan. Tidak perlu cepat, karena aku ingin yang tepat, bukan sekedar ada.

Selamat menjalani hidup dan harimu. Semoga kamu selalu semangat dan juga selalu mengingat-Nya. 

Komentar

  1. Jangan pernah berhenti mendoakan seseorang yang kamu cintai🌻

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf baru kubaca, makasih udah mampir yaaa <3

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.