Langsung ke konten utama

Malam (1) di bulan Juni

Hei, selamat malam juga.

Maaf tidak berbicara langsung dan justru menghindarimu berulang kali.

Maaf juga tidak pernah menuliskan atau mempublish mu seolah kamu tidak penting, padahal tidak begitu sama sekali.


Karena untukku, kamu hadiah yang terlalu cepat diberikan oleh semesta dan aku sangat takut hadiah itu akan ia ambil kembali seperti sebelum-sebelumnya. Aku masih ingin menjagamu ketimbang mengenang mu.


Aku juga ingin kita selamanya. Aku ingin kamu, aku ingin melakukan segala hal denganmu pula dan kuharap kamu adalah takdirku. Aku hanya tidak ingin kita terburu-buru dan akhirnya kamu pergi meninggalkanku. Aku ingin kita berjalan beriringan. 


Jangan ajak aku berlari. Karena sungguh aku payah untuk melakukannya.

Jangan juga pergi walaupun aku meminta. Karena juga sungguh aku tak pernah tahu apa yang aku rasa.

Yakinkan aku. Yakinkan aku meskipun itu artinya kamu harus melakukannya setiap waktu.

Aku menyangimu dengan sisa-sisa hati yang ku miliki. Dengan luka-luka masa laluku dan dengan semua yang aku punya. Jangan pergi karena artinya aku akan kehilangan semuanya kali ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.