Langsung ke konten utama

Pulang

Pernah ku baca pada sebuah buku, bahwa perjalanan pulang mesti lah menyenangkan tidak terkecuali pada perjalanan pulang yang sesungguhnya.

Pulang yang benar-benar pulang dan tidak kembali.

Pulang kepada yang Maha Kuasa.

Peristiwa mudik ke kampung yang tidak terhindarkan.

Karena setiap yang bernyawa akan dicabut kembali.


Dunia ini, tidak ada seujung kuku pun dari akhirat.

Dunia ini hanya tempat kita mengumpulkan bekal untuk pulang ke akhirat nanti.


Menyeramkan bukan?

Berbicara tentang segala hal yang berhubungan dengan kematian terasa menyeramkan. Padahal, peristiwa pulang sendiri adalah hal menyenangkan yang terjadi pada setiap insan.


Pulang sekolah, pulang ke rumah, pulang ke kampung halaman, pulang dari suatu tempat yang menjengkelkan merupakan hal yang kita tunggu dan nantikan.


Lalu, untuk pulang yang sesungguhnya, mengapa kita tidak merasa senang?

Mengapa tidak kita coba untuk menyambutnya?

Dunia ini hanya persinggahan sementara. Tempat yang Maha Kuasa menguji kita entah dengan cobaannya atau justru dengan nikmat yang berlebih sehingga kita tenggelam di dalamnya.


Dalam sebuah hadis yang kubaca pada sebuah buku itu, tertulis bahwa dunia ini hanya tempat untuk bercocok tanam dan masa panennya adalah ketika di akhirat. Dan, rumah mewah yang ada di dunia ini hanya gubuk penunggu kebun-kebun atau sawah itu sendiri sebelum akhirnya suatu saat mesti ditinggalkan.


Dan sesungguhnya, sebaik-baiknya pengingat adalah kematian. 

Bagaimana jika aku menghadap-Nya dalam keadaan tidak beriman?

Bagaimana jika aku menghadap-Nya sebelum ku tunaikan janji dan kewajiban?

Bagaimana jika aku meninggal terlebih dahulu sebelum sempat kulaksanakan solat 5 waktu?


Pengingat-pengingat itu mesti selalu terpatri dalam hati.

Teman-teman yang selalu menyemangati dan mengingatkan dalam perihal akhirat.

Dan, serangkaian kajian-kajian yang mesti kita ikuti ketika hati sedang gelisah.

Karena sesungguhnya iman yang dimiliki manusia itu naik turun. Seperti halnya baterai ponsel yang mesti di isi ulang kembali. 

Hal itu juga ku dengar dari salah satu ceramah ustadz yang sedang terkenal di era ini.


Aku sendiri, hanya seorang hamba yang seringkali lalai bahkan jauh dari-Nya

Seringkali pura-pura tak tahu akan apa yang benar dan salah sehingga menjadi buta dan tuli atas segala larangan-Nya


Namun hari ini, aku bersyukur bahwa dihatiku masih tersisa iman yang mesti ku bangun kembali

Aku bersyukur meski seringkali aku meninggalkan, 

Tuhanku tak pernah meninggalkanku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.