Langsung ke konten utama

Cerita Pendek 1

 

Cerpen

No Name

Suara petir dan guntur itu kian beradu di atas bumi yang sedang gelap sebelum waktunya. Kilatan berwarna putih yang sesekali muncul dari atas langit membuat siapa saja yang melihatnya ketakutan dan bergidik ngeri.

“Hei, sedang berteduh ya?”

Perempuan itu menatap malas pada lelaki berjaket denim di sebelah.

“Menurutmu?” Tanyanya sinis.

Lelaki itu tersenyum manis menampilkan deretan giginya.

“ya menurutku kamu sedang berteduh, makanya aku ikut berteduh juga padahal biasanya aku menerobos hujan dengan si begeng.”

Meski terlihat malas, si perempuan tetap saja memperhatikan lelaki itu dan mendengarkan pembicaraannya.

“Oh, si begeng temanmu?”

“Bukan, itu motor tua pemberian ayah”

Perempuan itu hanya ber “oh” ria, lalu hening kembali.

“Kamu mau naik si begeng saat hujannya reda?” Tanya lelaki berjaket denim.

“Untuk apa?”

“Ya untuk pulang, aku akan mengantarmu,”

“Maksudku jelaskan kenapa aku harus naik motormu itu. Karena aku bisa pulang sendiri.” Balas perempuan itu menahan kesal.

“Kamu ini temperamental sekali ya”

“Diamlah, cukup temani aku sampai hujan reda.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut suara petir dan angin yang siap menerbangkan siapa saja,”

“Maksudku jelaskan kenapa aku harus menemanimu padahal kamu bisa tunggu sendiri” balas lelaki itu meledek.

“Kamu ini ya, terserah saja.”

Lelaki itu justru tersenyum sambil menatapi si perempuan yang berwajah masam.

“Baiklah aku akan menemani” ucap lelaki itu tersenyum manis dan menatap si perempuan.

“Hmm”

“Kamu kedinginan?”

“Sedikit”

“Ya kalau sedikit aku tidak jadi meminjamkan jaketku, karena aku dinginnya banyak”

Perempuan itu hanya diam menatapi hujan yang tak kunjung reda. Rasanya ia mau menangis saja karena sejujurnya dia sangat takut dengan petir, dan angin yang sedang berkolaborasi membuat bumi menjadi tempat paling mengerikan buat dihuni. Ia begitu takut, tapi sebisa mungkin ia akan menahannya. Toh sekarang dia mesti menjadi manusia yang mandiri dan dapat menanggung kerasnya hidup ini dengan bahunya sendiri.

*heuheuuheuuu*

Teriakan yang sejak tadi perempuan itu tahan akhirnya lepas juga. Bumi telah begitu baik dalam membuat dirinya hancur berkali-kali. Air yang turun dari langit disertai petir dan angin saja sudah membuatnya ketakutan, sekarang ditambah lagi rasa kehilangan yang menyakitkan.

Dia pun menangis. Ingatan tentang Ayah dan Ibunya yang harus pergi karena kecelakaan bulan lalu itu terus menetap dan terputar seolah kaset rusak di kepalanya. Seharusnya dia bisa menghentikan kecelakaan itu dan tetap hidup Bersama dengan kasih sayang dan kenyamanan yang selama ini ia punya.

“Kau menangis?”

“Tidak”

“Jelas-jelas pipimu basah, dan kau berteriak tadi”

“Aku hanya takut hujan, dan ini hanya air dari atas langit” balas perempuan itu buru-buru mengusap air mata di pipinya.

“Kita sama-sama terkena hujan, tapi kenapa cuma pipi kamu yang basah?”

“Diamlah, kamu ini banyak bicara sekali.” Perempuan itu mendengus kesal yang justru dibalas tawa renyah sang lelaki.

Suasana di antara mereka hening seketika diikuti hujan yang sedikit mereda.

“Kamu bisa bercerita kepadaku jika kau mau” ucap lelaki itu menawarkan.

“Aku baru saja kehilangan ke dua orang tua ku”

“Maaf, aku tidak tahu” Lelaki itu menatap sendu kepada perempuan di sampingnya.

“Jangan melihatku sedih begitu.”

“Aku tidak sedih melihatmu” Lelaki itu berusaha mengelak.

“Lalu?”

“Kamu cantik juga ternyata”

Perempuan itu menatap tidak percaya kepada lelaki di sampingnya. Dia bilang dia bisa bercerita jika mau, tapi sungguh responnya sangat menjengkelkan.

“Kamu sangat menyebalkan” Ucap perempuan itu kesal.

“Ya, kamu mungkin akan mencariku saat hujan tiba, atau mungkin kamu akan menunggu ku di halte ini setiap hari”

“Memangnya kenapa aku harus mencarimu?”

“Nggak semua hal butuh alasan, kamu mungkin hanya ingin mencariku saja nanti”

“Terima kasih tuan paling percaya diri yang paling ku temui, hujannya sudah berhenti dan aku harus pergi” Ucap perempuan itu dengan senyum meledek.

“Kamu tidak ingin pergi dengan si begeng?” Tanya lelaki itu sekali lagi.

“Aku ingin pergi dari hadapanmu, bukan pergi dengan si begeng”

“Kau akan menyesal nanti”

“Kuharap begitu”

 

Perempuan itu pamit dengan sopan kepada lelaki disampingnya tadi dan berterima kasih telah menemaninya atas hujan itu terlepas dari sifat dan perkataannya yang sungguh menyebalkan.

“Selamat tinggal pemilik motor begeng”

“Selamat tinggal putri temperamental”

 

Dia tersenyum dan melangkah pergi. Sesekali menengok kepada lelaki tadi di belakang yang entah mengapa tak kunjung pulang padahal hujan sudah usai. Hujan telah berhenti dan meninggalkan bau khas yang menenangkan buatnya.

Sampai akhir cerita, dia bahkan tidak mengenal nama lelaki itu.

Mungkin nanti dia akan bertanya-tanya apakah ada orang yang menamakan motor tua pemberian ayahnya dengan sebutan begeng di seluruh pelosok kota untuk sekedar menemaninya ketika hujan kembali datang di halte dekat sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.