Langsung ke konten utama

Mari bertemu kembali

 30 November 2022.

Satu bulan menuju penghujung tahun 2022 dan awal dari 2023.


Saat akhir tahun itu tiba, apa bayangmu tetap jadi yang paling pertama kuingat?

Apa kenangan tentangmu masih jadi hal yang paling ingin ku ulangi untuk sekali lagi yang tak pernah berakhir?


Aku tidak akan menjajikan kembali bahwa Desember ini akan jadi yang terakhir.

Aku tidak lagi menjanjikan bahwa Desember ini aku telah melepas segala hal tentangmu;

Mengelak bahwa perasaan ini masih ada dan tidak sirna,

dan berpura-pura bahwa aku tidak terusik pada hal-hal yang berkaitan dengan kamu.


Tapi, bolehkah aku begitu?

Bolehkah kukatakan bahwa aku ingin kamu sekali lagi,

Bolehkah kuucap bahwa aku mau melakukan segala hal bersama kamu; bukan dengan orang lain.

Bolehkah kubilang bahwa aku ingin kita bertemu kembali sebagai dua orang yang cintanya masih?


jika boleh aku berbicara,

Mari bertemu kembali...

Mari bertemu kembali sebagai dua orang asing alih-alih sebagai dua orang yang cintanya masih;

Mari lakukan segalanya dengan benar kali ini.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.