Langsung ke konten utama

Fase Kehidupan

 Setiap yang hidup pasti akan merasakan mati.

Kehidupan sebelum mati itu  nggak ada artinya.

Kehidupan yang hakiki itu, kehidupan setelah kematian.

 

Ketika sudah mati, maka kita akan hidup Kembali.

Kehidupan setelah di alam dunia akan lebih Panjang.

 

Ketika hari kiamat. Kita akan dibangkitkan dan dihisab. Satu golongan masuk surga dan golongan lain akan masuk ke neraka dan disitulah makna kehidupan yang abadi. Dapat abadi di neraka ataupun abadi di surga.

 

Sebagai orang islam, kita tidak akan abadi di neraka selama masih membawa kalimat Laa illahailallah. Bisa jadi kita lalai dan melaksanakan maksiat, maka kalimat Laa illahailallah dapat membantu kita kelak.

Namun, siapa sih yang mau mampir ke neraka dulu?

Maka, jalankanlah kalimat itu dengan sebenar-benarnya. Jadilah hamba yang mematuhi dan menaati. Jadikanlah surga di dunia dan di akhirat dengan kalimat Laa illahailallah dengan mengamalkannya, mematuhinya dan menaatinya sehingga kita akan diselamatkan oleh Allah SWT. Maka kita akan Bahagia pada kehidupan kita yang sementara dengan kehidupan yang abadi.

Jangan sampai kita lalai pada kehidupan abadi demi kehidupan yang sementara.

Banyak yang memilih kehidupan senang di dunia tapi sengsara di akhirat kelak.

Buat apa kemewahan dan keindahan jika ditinggalkan menuju kehidupan yang abadi.

Maka kita harus berpikir cerdas untuk mempersiapkan kehidupan yang abadi tanpa harus melewati neraka.

Mengapa Allah sembunyikan proses kematian sehingga adanya kejadian mati mendadak?

Bisa ada yang mati karena kecelakaan ataupun Ketika sedang sehat-sehat saja. Tidak adanya tanda-tanda kematian sama sekali. Yang hanya terlihat adalah pada usia, jika semakin tua.

Kiamat saja yang menurut kita masih lama itu Allah sebut sangat dekat. Apalagi kematian. Tidak perlu dipikirkan tanda-tanda kematian. Tapi teruslah menjadi orang yang baik baik bagi diri sendiri maupun orang sekitar, serta menjauhi segala larangan-Nya. Tidak ada yang bisa menolak atau menghindari kematian. Jika ada yang memang bisa terhindar dari kematian ialah Nabi Muhammad SAW. Namun ternyata beliau saja sudah meninggal meskipun masih dapat mengetahui siapa saja yang bersholawat kepadanya.


diketik dari salah satu ceramah Syekh Ali Jaber.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.