Langsung ke konten utama

What if i say that i love you?

 


Jadi, bagaimana?

Bagaimana jika kubilang aku betulan menyukaimu?

Bagaimana jika kubilang aku ingin terus bersama kamu, dan bahwa  yang kutunggu selama ini adalah kamu?


Bagaimana?

Bagaimana jika kuungkapkan perasaan itu; yang aku sendiri pun tidak tahu kenapa aku harus jatuh hati padamu.

Menurutmu bagaimana?

Haruskah kulanjutkan ini atau kututup sebelum semuanya terlalu jauh?


Aku sendiri tidak yakin. Aku masih belum yakin akan perasaan yang kumiliki ini. Meskipun begitu, aku bisa mengakui bahwa aku menyukaimu karena tidak ada yang membuatku ingin terus-terusan melihat notifikasi pada handphone ku itu selain kamu, yang padahal kamu bukan siapa-siapa dihidupku dan aku pun tidak memiliki banyak energi untuk membalas pesan-pesan yang masuk, kecuali pesan darimu.

Cukupkah kugunakan alasan tersebut untuk mengatakan bahwa aku menyukaimu, dan mungkin saja ini telah lebih dari sekedar rasa suka?


Bagaimana jika kuucap bahwa aku menyukaimu dengan benar, dan aku pun ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku?

Tapi, pertanyaan seperti itu rasanya cukup jadi pengandaian saja untuk saat ini karena aku justru takut merusak suasana.


Namun, jika kamu kebetulan membacanya;

Aku mau meminta maaf atas itu.

Maaf karena telah menyukaimu dan bersikap seolah aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap kamu.

Maaf karena aku mengambil kesempatan untuk terus denganmu walau tidak menjadi siapa-siapamu.

Maaf dan terima kasih karena membiarkanku memiliki teman semenyenangkan dirimu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.