Langsung ke konten utama

Kita nggak jelas, tapi bukan berarti perasaanku samar

Katanya, ini akan buang waktu kalau tanpa kejelasan;

Katanya, aku harus pergi jika tidak ingin dipermainkan;

Katanya, aku lebih baik pergi dari awal sebelum semua terlalu menyakitkan.


Tapi, aku nggak mau. Aku nggak mau pergi. Aku mau tetap disini. Aku cuman ingin sama dia. Aku juga mau ditemani dan nggak sendirian.  Aku mau sama dia meski konsekuensinya aku tidak akan menjadi seseorang yang lebih buatnya. Aku mau sama dia meski hanya sekedar bisa mendengar suaranya saja. Aku mau sama dia. Aku mau sama dia sekalipun kita bukan apa-apa. Sekalipun pemakaian kata kita disini tidak dibenarkan karena aku dan dia tidak pernah menjadi satu. Aku cuman mau dia untuk waktu yang belum ingin aku tentukan akhirnya.

Aku ingin egois kali ini. Meski aku sama sekali tidak tahu apa yang ada dipikirannya terhadapku, aku tetap mau bersama dia. Meski dia tidak kunjung memberiku sebuah kepastian, aku tetap ingin sama dia. Aku tetap ingin memperjuangkannya. Setidaknya dalam beberapa waktu. Setidaknya sampai seluruh rasaku telah kutunjukkan untuknya. Setidaknya setelah dia tahu kalau aku itu benar-benar tulus sama dia, dan nggak ada niatan nggak baik terhadap dia. Setidaknya dia harus melihat betapa aku tidak meminta apa-apa selain kehadirannya dan segala hal baik untuk dia.

Kita memang bukan apa-apa. Nggak ada ikatan. Nggak ada kejelasan. Nggak ada sesuatu yang spesial. Tapi aku jelas memiliki rasa yang berbeda. Aku jelas memilikinya. 


Kita emang nggak jelas, tapi bukan berarti perasaanku samar;

Kita emang nggak jelas apa, tapi aku tahu jelas bahwa yang kemarin itu adalah ulahnya yang mencoba mendekatiku, lalu ia tidak mau bertangggung jawab;

Kita nggak jelas, dan ini cukup menyakitkan buatku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.