Langsung ke konten utama

Hari-hari kepala dua

Kepala yang penuh.

Hati yang sesak.

Perasaan dan alasan yang tidak bisa diutarakan.

Persepsi sana-sini hingga membuat kesimpulan sendiri.


Dulu, waktu kecil ibu dan ayah nggak memberi tugas apa-apa;

Pun dengan kewajiban belajar. Ibu dan Ayah nggak menuntut apapun kecuali untuk makan tepat waktu. Menjadi anak penurut. Diam di rumah. Pulang sekolah tepat waktu dan tidak keluyuran ke mana-mana.

Tidak mengerjakan pekerjaan rumah tiap waktu, dan cukup menjadi anak penurut yang tidak menuntut sesuatu yang tidak dipunya.


Dulu, walaupun sesekali mengeluh karena hidup tidak semenyenangkan yang lain, pikiran tidak bercabang ke mana-mana.

Dulu, walaupun memiliki banyak masalah, tetap saja masalanya tidak merembet ke segala arah.

Dulu, hanya seorang anak ibu dan ayah.


Sekarang, menjadi anak kehidupan yang hidupnya tidak terarah.

Sekarang, dilepas menjadi anak jalanan yang entah esok akan membayar tagihan dengan cara apa.

Sekarang, dipaksa berlomba padahal tidak mengetahui track-nya.

Sekarang, menjadi anak semesta yang diliputi perasaan gelisah dan tanpa arah.


Hari-hari kepala dua yang memuakkan.

Ibu dan Ayah yang tidak bosan-bosannya berkata untuk berhemat;

Teman-teman yang selalu menjebak. Ingin kesana dan kesini.

Dua kutub bersebrangan yang ingin selalu dimenangkan.


Lalu, sosok anak ini hanya seonggok nyawa yang tidak sekalipun memiliki raganya.

Hari-hari terus dilalui tanpa makna,

Hari-hari terus mempertanyakan dirinya.

Hari-hari, ia hanya ingin dikembalikan kepada sang pencipta.


Hari-hari kehidupan di kepala dua jauh berbeda dengan masa kanak-kanak yang setiap hari tertawa tanpa memikirkan hari-hari ke depan.

Hari ini, takut sekali untuk banyak tertawa;

Hari ini, harus memikirkan hari esok bagaimana.

Hari ini, ingin hari berakhir sekaligus resah pada apa yang terjadi di depan.


Hidup di kepala dua ini memang penuh dengan tanda tanya dan keraguan.

Ragu apakah setiap keputusan yang diambil sudah benar atau bukan,

Ragu apakah nanti bisa mewujudkan cita-cita orang tua atau tidak,

Ragu apakah akan sukses atau tidak.


Banyak sekali keraguan seolah tidak ada sang pencipta,

Banyak sekali ragu-ragu yang tidak sadar telah dilakukan dan meragukan-Nya pula.

Padahal, Allah sudah mentakdirkan sesuatu. Dan seperti kata Umar Bin Khattab:

"Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku."


Sejatinya, kita hanya perlu berusaha tapi seringkali lebih khawatir terhadap hasilnya. Manusia namanya. Banyak keraguan tidak perlu dipikirkan, tapi tetap saja ia lebih memilih untuk mengikuti rasa khawatir itu dengan berlarut-larut di dalamnya dibandingkan untuk mencari solusi ke depan.

Sudah saatnya ambil langkah, bahwa  kewajiban kita sejatinya ialah berusaha; bukan untuk memaksakan hasilnya.

Pun kegagalan hanya terjadi ketika kita menyerah.

Usahamu pun merupakan sebuah kemajuan yang patut diapresiasi.

Teruskan langkahmu, dan berhenti membandingkan.

Yakinkan dirimu, bahwa yang terjadi saat ini merupakan takdir yang terbaik dari-Nya.

Terus berusaha dan bertahan,

sampai waktunya Tuhan berkata pulang. Jauhkan pikiranmu dari hal-hal sesak yang membuatmu ingin menyerah.

Ingat, janji-Nya adalah nyata.

Dunia memang tempatnya lelah dan bersusah payah. 'apa yang ditanam itulah yang akan dituai'

Dunia ini hanya tempat persinggahan sementara.

Ketika kamu mulai bingung untuk apa hidup dan dilahirkan, mungkin kamu harus kembali mengingat-Nya barangkali kamu lupa.

Barangkali pikiranmu penuh dengan dunia dan seisinya. Maka, beristirahatlah sejenak dengan melaksanakan pertemuan dengan-Nya. Lima kali dalam sehari. Setidaknya.

Berapapun umurnya, sejatinya tujuan manusia diciptakan tetap sama. Beribadah kepada-Nya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.