Kepala yang penuh.
Hati yang sesak.
Perasaan dan alasan yang tidak bisa diutarakan.
Persepsi sana-sini hingga membuat kesimpulan sendiri.
Dulu, waktu kecil ibu dan ayah nggak memberi tugas apa-apa;
Pun dengan kewajiban belajar. Ibu dan Ayah nggak menuntut apapun kecuali untuk makan tepat waktu. Menjadi anak penurut. Diam di rumah. Pulang sekolah tepat waktu dan tidak keluyuran ke mana-mana.
Tidak mengerjakan pekerjaan rumah tiap waktu, dan cukup menjadi anak penurut yang tidak menuntut sesuatu yang tidak dipunya.
Dulu, walaupun sesekali mengeluh karena hidup tidak semenyenangkan yang lain, pikiran tidak bercabang ke mana-mana.
Dulu, walaupun memiliki banyak masalah, tetap saja masalanya tidak merembet ke segala arah.
Dulu, hanya seorang anak ibu dan ayah.
Sekarang, menjadi anak kehidupan yang hidupnya tidak terarah.
Sekarang, dilepas menjadi anak jalanan yang entah esok akan membayar tagihan dengan cara apa.
Sekarang, dipaksa berlomba padahal tidak mengetahui track-nya.
Sekarang, menjadi anak semesta yang diliputi perasaan gelisah dan tanpa arah.
Hari-hari kepala dua yang memuakkan.
Ibu dan Ayah yang tidak bosan-bosannya berkata untuk berhemat;
Teman-teman yang selalu menjebak. Ingin kesana dan kesini.
Dua kutub bersebrangan yang ingin selalu dimenangkan.
Lalu, sosok anak ini hanya seonggok nyawa yang tidak sekalipun memiliki raganya.
Hari-hari terus dilalui tanpa makna,
Hari-hari terus mempertanyakan dirinya.
Hari-hari, ia hanya ingin dikembalikan kepada sang pencipta.
Hari-hari kehidupan di kepala dua jauh berbeda dengan masa kanak-kanak yang setiap hari tertawa tanpa memikirkan hari-hari ke depan.
Hari ini, takut sekali untuk banyak tertawa;
Hari ini, harus memikirkan hari esok bagaimana.
Hari ini, ingin hari berakhir sekaligus resah pada apa yang terjadi di depan.
Hidup di kepala dua ini memang penuh dengan tanda tanya dan keraguan.
Ragu apakah setiap keputusan yang diambil sudah benar atau bukan,
Ragu apakah nanti bisa mewujudkan cita-cita orang tua atau tidak,
Ragu apakah akan sukses atau tidak.
Banyak sekali keraguan seolah tidak ada sang pencipta,
Banyak sekali ragu-ragu yang tidak sadar telah dilakukan dan meragukan-Nya pula.
Padahal, Allah sudah mentakdirkan sesuatu. Dan seperti kata Umar Bin Khattab:
"Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku."
Sejatinya, kita hanya perlu berusaha tapi seringkali lebih khawatir terhadap hasilnya. Manusia namanya. Banyak keraguan tidak perlu dipikirkan, tapi tetap saja ia lebih memilih untuk mengikuti rasa khawatir itu dengan berlarut-larut di dalamnya dibandingkan untuk mencari solusi ke depan.
Sudah saatnya ambil langkah, bahwa kewajiban kita sejatinya ialah berusaha; bukan untuk memaksakan hasilnya.
Pun kegagalan hanya terjadi ketika kita menyerah.
Usahamu pun merupakan sebuah kemajuan yang patut diapresiasi.
Teruskan langkahmu, dan berhenti membandingkan.
Yakinkan dirimu, bahwa yang terjadi saat ini merupakan takdir yang terbaik dari-Nya.
Terus berusaha dan bertahan,
sampai waktunya Tuhan berkata pulang. Jauhkan pikiranmu dari hal-hal sesak yang membuatmu ingin menyerah.
Ingat, janji-Nya adalah nyata.
Dunia memang tempatnya lelah dan bersusah payah. 'apa yang ditanam itulah yang akan dituai'
Dunia ini hanya tempat persinggahan sementara.
Ketika kamu mulai bingung untuk apa hidup dan dilahirkan, mungkin kamu harus kembali mengingat-Nya barangkali kamu lupa.
Barangkali pikiranmu penuh dengan dunia dan seisinya. Maka, beristirahatlah sejenak dengan melaksanakan pertemuan dengan-Nya. Lima kali dalam sehari. Setidaknya.
Berapapun umurnya, sejatinya tujuan manusia diciptakan tetap sama. Beribadah kepada-Nya.
Komentar
Posting Komentar