Langsung ke konten utama

Hari-hari menyusun skripsi

[Dokumentasi: Infused water yang dibeli saat sedang jogging di alun-alun Kota Serang]


"Bagaimana skripsinya?"

"Kapan sidang?"

"Kapan wisuda?"

Wah. Perhatian sekali. Atau justru repot sekali. Dengan pertanyaan yang tidak sekali dua kali. Meskipun tahu jawabannya masih belum ganti.

"Belum nih, doakan saja, ya."

 

Masih begitu. Jawabanku masih belum. Tidak perlu repot-repor untuk ditanyakan kembali karena jawabannya juga belum berubah. Nanti kuberi tahu. Jika sudah saatnya.  

Ya mungkin mereka masih belum mengerti. Bagaimana rumitnya. Bagaimana sudah berusahanya.

Tapi, maksudku tidak perlu berkali-kali. Cukup sekali saja ditanyakan barangkali jika memang peduli. Atau hanya sekedar basa-basi. 


Hari-hari ini penuh kerisauan.

Hari-hari ini penuh dengan 'overthinking' yang berlebihan.

Hari-hari ini selalu banyak pertanyaan.

Hari-hari ini penuh dengan rasa tidak nyaman.

Hari-hari ini tidak dapat tidur dengan tenang. 


Hari-hari menyusun skripsi menjadi hari paling kosong. Tenang. Tapi juga menenggelamkan.

Hari-hari ke depan memang belum tentu akan lebih aman. Tapi, sejak hari ini yang kutahu hidup tidak penuh dengan rasa menyenangkan. Ada peluh dan sesak yang mesti dirasakan. Ada perjuangan yang mesti diberikan. Dan semua adalah easa yang umum bagi semua kalangan.

Tidak. Aku tidak mengklaim bahwa diriku paling menyedihkan. Paling sengsara dan menderita. Tidak sekalipun aku ada pikiran begitu. Aku tahu, semua punya ujiannya. Semua punya perjuangan dan ceritanya. Tidak bisa disama ratakan. Dan meski begitu, aku ingin kalian tahu bahwa semua rasa yang dimiliki itu valid dan benar kalian rasakan. Entah sedih atau senang. Pedih dan menyakitkan. Atau segala bahagia-bahagia yang hanya datang sesaat. 

Semua rasa boleh kalian rasakan. 

Semua rasa valid pada diri kalian.

Semua rasa tidak mengenal seseorang.

Semua rasa tidak perlu dibandingkan.

Bukan karena paling atau maha, tapi karena itu ada.


Tidak. Ini bukan kalimat pembenaran akan skripsi semata. Ini berlaku bagi semua rasa. Entah karena frustasi mencari kerja. Frustasi karena ditinggal pujangga. Pun sedih-sedih lainnya. Semua valid. Semua berhak dirasakan. Asal tidak terlalu lama. Asal tidak tenggelam di dalamnya. 

Selamat bertambah usia. Selamat mengemban beban dan amanah yang semakin menumpuk di pundak. Apapun yang terjadi, tetaplah bertahan.

Seperti kata ustad Agam pada salah satu video yang muncul dalam berandaku,

"Hadiah terbaik adalah apa yang kamu miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang kamu jalani."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.