"Bagaimana skripsinya?"
"Kapan sidang?"
"Kapan wisuda?"
Wah. Perhatian sekali. Atau justru repot sekali. Dengan pertanyaan yang tidak sekali dua kali. Meskipun tahu jawabannya masih belum ganti.
"Belum nih, doakan saja, ya."
Masih begitu. Jawabanku masih belum. Tidak perlu repot-repor untuk ditanyakan kembali karena jawabannya juga belum berubah. Nanti kuberi tahu. Jika sudah saatnya.
Ya mungkin mereka masih belum mengerti. Bagaimana rumitnya. Bagaimana sudah berusahanya.
Tapi, maksudku tidak perlu berkali-kali. Cukup sekali saja ditanyakan barangkali jika memang peduli. Atau hanya sekedar basa-basi.
Hari-hari ini penuh kerisauan.
Hari-hari ini penuh dengan 'overthinking' yang berlebihan.
Hari-hari ini selalu banyak pertanyaan.
Hari-hari ini penuh dengan rasa tidak nyaman.
Hari-hari ini tidak dapat tidur dengan tenang.
Hari-hari menyusun skripsi menjadi hari paling kosong. Tenang. Tapi juga menenggelamkan.
Hari-hari ke depan memang belum tentu akan lebih aman. Tapi, sejak hari ini yang kutahu hidup tidak penuh dengan rasa menyenangkan. Ada peluh dan sesak yang mesti dirasakan. Ada perjuangan yang mesti diberikan. Dan semua adalah easa yang umum bagi semua kalangan.
Tidak. Aku tidak mengklaim bahwa diriku paling menyedihkan. Paling sengsara dan menderita. Tidak sekalipun aku ada pikiran begitu. Aku tahu, semua punya ujiannya. Semua punya perjuangan dan ceritanya. Tidak bisa disama ratakan. Dan meski begitu, aku ingin kalian tahu bahwa semua rasa yang dimiliki itu valid dan benar kalian rasakan. Entah sedih atau senang. Pedih dan menyakitkan. Atau segala bahagia-bahagia yang hanya datang sesaat.
Semua rasa boleh kalian rasakan.
Semua rasa valid pada diri kalian.
Semua rasa tidak mengenal seseorang.
Semua rasa tidak perlu dibandingkan.
Bukan karena paling atau maha, tapi karena itu ada.
Tidak. Ini bukan kalimat pembenaran akan skripsi semata. Ini berlaku bagi semua rasa. Entah karena frustasi mencari kerja. Frustasi karena ditinggal pujangga. Pun sedih-sedih lainnya. Semua valid. Semua berhak dirasakan. Asal tidak terlalu lama. Asal tidak tenggelam di dalamnya.
Selamat bertambah usia. Selamat mengemban beban dan amanah yang semakin menumpuk di pundak. Apapun yang terjadi, tetaplah bertahan.
Seperti kata ustad Agam pada salah satu video yang muncul dalam berandaku,
"Hadiah terbaik adalah apa yang kamu miliki, dan takdir terbaik adalah apa yang kamu jalani."

Komentar
Posting Komentar