Dering ponselku tidak lagi sering menyala. Ia tidak lagi menggangguku sekaligus membuatku senang ketika menerimanya. Barangkali ia rusak dan perlu ditukarkan karena sudah tidak bisa menerima pesan-pesan yang kuharap.
Satu. Dua. Sepuluh. Lima belas. Hingga hari yang kian berganti tahun ia tidak kunjung menerimanya.
Menerima panggilan tanpa maksud yang menyita waktu berhargaku sekian jam setiap harinya
Menerima pesan-pesan yang membuat hatiku ikut berteriak kegirangan seusai membacanya
Kembali. Aku kembali pada hari-hari kesepian yang telah biasa kulakukan. Barangkali sudah jadi ahlinya. Lagi. Lagi. Hanya angin lewat pikirku untuk yang berulang. Mungkin aku cuman dermaga atau pelabuhan tempat menepinya seseorang. Ya. Berlabuh tapi tidak utuh. Berlabuh tapi hanya separuh. Berlabuh tapi juga tidak mau jatuh. Berulang kali kuterima. Sebanyak itu pula aku tetap mencoba tabah dan ikhlas.
Tidak semua yang ada di bumi mesti dimiliki.
Tidak semua yang dilihat harus menjadi kepunyaan.
Tidak semua yang menyenangkan harus terus dirasakan.
Mengetahui bahwa semua hal adalah bagian dari perjalanan.
Banyak hikmahnya, banyak juga yang didapat
Mana tahu kalau semua ini adalah bekal untuk menyikapi masalah yang akan datang. Salah satu hal agar dapat bertahan. Sadar tidak sadar. Satu langkah kemajuan pun kegagalan adalah bagian dari perjalanan. Mungkin harus melewati kegagalan. Atau kiranya tidak ada kata salah jalan. Hanya begitu adanya. Jalannya memang tidak seperti yang diharapkan. Belum tentu salah. Belum tentu tidak benar.
Lalu perasaan itu muncul kembali ke permukaan
Perasaan bodoh. Umpatmu. Perasaan konyol yang mestinya tidak dirasakan. Walaupun sejatinya kamu tahu fitrah bahwa manusia memiliki perasaan. Terlebih seorang wanita. Ia adalah lambang makhluk perasa.
Tapi masa bodoh. Apa itu perasaan. Omong kosong dan dongeng orang-orang. Karena selama hidup pun rasanya tidak ada kasih sayang. Pun tidak mengerti bagaimana harus memberikan perasaan.
Kamu berbohong. Kamu berpura-pura
Kamu pura-pura tidak merasakan apa-apa untuk menutupinya
Ya. Dalam hidup ini tidak ada yang benar hitam. Pun benar putih. Kalimat yang hingga kini masih kupercayai. Hanya ada putih yang gelap pun hitam yang terang. Semuanya abu-abu.
Barangkali perlu menepi sejenak untuk merasakan perasaan. Yang dipikir tidak kau perlukan. Padahal setiap waktu membuatmu risau.
Apa perlu kukatakan?
Perasaan yang sama seperti dahulu saat kita masih sering berinteraksi
Semua masih sama. Hanya hari dan waktunya yang berbeda. Aku hanya tidak ingin terus kebingungan. Kebingungan karena harus menerka-nerka.
Mungkin. Terlalu naif. Ya. Aku yang naif dan terus-terusan menghindar.
Tapi aku masih disini. Di tempat yang sudah tidak kau kunjungi lagi.
Komentar
Posting Komentar