Langsung ke konten utama

Sepanjang Jalan

 

[Sumber gambar: Pixabay]

Jalanan ini tak bertuan. Oh mungkin berpuan, kata suara di seberang sana.

Tidak Nona. Jalanan ini milik semesta. Jalanan ini milik khalayak ramai.

"Lantas ini milik siapa?"


Sekali lagi. Jalanan itu tak berpunya. Itu milik Tuhan. Termasuk alam semesta. Tidak hanya jalanan.

"Lalu apa itu kewenangan setiap daerah, Tuan?"


Ya. Itu hanya kepemilikan nama lahan. Sesungguhnya ini tetap punya Tuhan. Pun kita semua. Semua makhluk di bumi. Semua barang, juga properti. Apalagi alam yang kiranya begitu luas ini.

Aku tidak mengerti, Tuan. Lalu untuk apa kita dilahirkan?

Tidak semua hal mesti kita mengerti. Ada hal-hal yang diluar batas kapasitas kita sebagai manusia.


Ah perkataanmu tidak mampu menjawabnya

Tersenyum. Tersenyumlah Nona. Pada Era ini kau tidak perlu memusingkan apa-apa. Hanya perlu jalani. Terus berjalan. Lurus atau berbelok. Tidak masalah.


Apa itu artinya hidup ini tanpa tujuan?

Tidak. Sepanjang jalan yang dilewati membawa kita pada tempat-tempat tertentu. garis-garis finish yang tidak usai sampai waktunya untuk pulang.

Kenapa tidak langsung pulang saja?

Kalau langsung pulang, penciptaan jalan-jalan ini bukan akan sia-sia?

Kenapa membalas pertanyaan dengan pertanyaan kembali?

Ada baiknya memang bertanya jika tidak tahu. Namun, bertanya untuk pertanyaan dasar bukanlah hal yang bagus.

Aku hanya ingin menyamakan persepsi

Apa gunanya? Kita hidup dan diciptakan tentulah untuk beribadah. Hal yang sudah jelas dan pasti. Kebanyakan justru bertanya untuk mendapatkan jawaban lain. Mendapat dukungan, mungkin.


Sepanjang jalan ini banyak godaan yang datang. Tidak sedikit waktu ingin cepat-cepat pulang padahal belum sampai. Belum waktunya. Tidak sedikit kesempatan mengeluh atas takdir yang diberikan. Padahal usahanya saja masih kurang. Ibadahnya saja hanya sekedarnya.

Sepanjang jalan ini banyak kutemukan hal-hal yang membuat ingin berbelok. Berbalik arah. Tidak jarang ingin keluar dari jalan yang seharusnya. Sepanjang jalan ini naik turun sekali.

Sepanjang jalan ini tidak ada yang pasti. Hanya penuh dengan teka-teki.

Pada sepanjang jalan ini kita dipaksakan untuk pasrah pada takdirnya. Pasrah dan tetap berusaha. Penuh kebingungan dan pertanyaan. Sepanjang jalan ini tidak ada petanya. Sepanjang jalan ini seperti bermain monopoli semasa kecil. Ada tempat yang dihindari. Ada tempat yang sangat ingin disambangi. Tapi kemudian lewat begitu saja. Kesempatan yang tidak datang dua kali apalagi berkali-kali.

Sepanjang jalan ini adalah hidup. Sepanjang jalan ini memiliki akhir layaknya segala jalan yang terdapat di muka bumi. Maka bersabarlah sebentar lagi. Tidak ada berhasil dan gagal dalam perjalanan. Selagi terus berjalan. Barangkali memang jalan yang ditempuh tidak mulus. Itu tetap jalan yang mesti diambil.

Sepanjang jalan ini mesti diteruskan. Sampai akhir. Sampai waktunya berpulang ke tempat asal.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan di Sabtu Pagi

Hari ini pagi yang dingin, ditemani gemericik hujan dan AC kantor yang ku setting di angka 22.  Pagi ini kuputuskan sebuah langkah baru. Langkah untuk meyakini bahwa aku menikmati hidupku, meski justru terbesit keraguan ketika aku menuliskannya.  Aku menikmati dan mensyukuri bahwa pagi ini; pagi-pagi sekali aku harus berada di kantor satu jam sebelum jam kerjaku di mulai karena aku harus menumpang pada tetanggaku yang depan. Aku mensyukuri bahwa setidaknya tetanggaku tersebut adalah Kakak sepupuku dari keluarga Ayah.  Aku mensyukuri bahwa aku tidak perlu menaiki angkutan umum/ kota pagi-pagi buta sekali demi sampai sebelum jam delapan. Aku hanya perlu ikut menumpang, meski kemudian turun dan melanjutkan perjalanan. Sendirian. Karena selanjutnya kami berbeda tujuan.   Aku bersyukur bahwa aku selalu datang ke kantor sebelum jam 8, tidak pernah terlambat meski pernah ada insiden motor yang kubawa mati di jalanan. Aku bersyukur bahwa meski mati di jalan, motor ter...

Beri aku kopi, jangan beri aku hati

  Segelas kopi yang kau suguhkan kala itu saat kita sedang bercengkrama di tengah kota. Malam yang dingin. Wajahmu yang cukup muram dengan masalah yang kau bawa. Berharap bahwa aku bisa membantumu meringankan dan membuatmu lega seperti biasanya. Ternyata aku tidak bisa. Aku hanya menambah kekacauan dengan menumpahkan minuman yang kau beri itu. Sayang sekali, padahal aku cukup suka rasanya. Tetapi harus terbuang sia-sia karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik.  Haha. Kamu malah tertawa karena aku tak sengaja mengenai minuman itu sehingga tumpah. Aku mencoba membersihkan air berwarna kecoklatan itu di meja. Vanilla latteku harus sirna tanpa bisa kunikmati dengan sepenuhnya. Kamu pun ikut membantu membersihkan. Tapi aku sedikit senang melihat wajahmu yang muram itu cerah sebentar karena ulahku. Hanya sedikit karena sisanya wajahmu muram kembali dan aku tidak berhasil membuat wajahmu cerah kembali seperti biasanya kala itu. Lalu seusai mengobrol kamu pun mengantarku kembali ...

Aku nggak suka hal yang merepotkan

 Aku adalah kebebasan. Aku adalah lambang bebas yang terkunci dan tersembunyi. Aku, kebebasan. Aku sesuatu yang berdikari. Aku tidak diatur oleh siapa-siapa kecuali yang memiliki; Tuhan pemilik semesta. Aku mengikuti aturannya, dan segala hal di luar itu bukan urusanku.