Tidak Nona. Jalanan ini milik semesta. Jalanan ini milik khalayak ramai.
"Lantas ini milik siapa?"
Sekali lagi. Jalanan itu tak berpunya. Itu milik Tuhan. Termasuk alam semesta. Tidak hanya jalanan.
"Lalu apa itu kewenangan setiap daerah, Tuan?"
Ya. Itu hanya kepemilikan nama lahan. Sesungguhnya ini tetap punya Tuhan. Pun kita semua. Semua makhluk di bumi. Semua barang, juga properti. Apalagi alam yang kiranya begitu luas ini.
Aku tidak mengerti, Tuan. Lalu untuk apa kita dilahirkan?
Tidak semua hal mesti kita mengerti. Ada hal-hal yang diluar batas kapasitas kita sebagai manusia.
Ah perkataanmu tidak mampu menjawabnya
Tersenyum. Tersenyumlah Nona. Pada Era ini kau tidak perlu memusingkan apa-apa. Hanya perlu jalani. Terus berjalan. Lurus atau berbelok. Tidak masalah.
Apa itu artinya hidup ini tanpa tujuan?
Tidak. Sepanjang jalan yang dilewati membawa kita pada tempat-tempat tertentu. garis-garis finish yang tidak usai sampai waktunya untuk pulang.
Kenapa tidak langsung pulang saja?
Kalau langsung pulang, penciptaan jalan-jalan ini bukan akan sia-sia?
Kenapa membalas pertanyaan dengan pertanyaan kembali?
Ada baiknya memang bertanya jika tidak tahu. Namun, bertanya untuk pertanyaan dasar bukanlah hal yang bagus.
Aku hanya ingin menyamakan persepsi
Apa gunanya? Kita hidup dan diciptakan tentulah untuk beribadah. Hal yang sudah jelas dan pasti. Kebanyakan justru bertanya untuk mendapatkan jawaban lain. Mendapat dukungan, mungkin.
Sepanjang jalan ini banyak godaan yang datang. Tidak sedikit waktu ingin cepat-cepat pulang padahal belum sampai. Belum waktunya. Tidak sedikit kesempatan mengeluh atas takdir yang diberikan. Padahal usahanya saja masih kurang. Ibadahnya saja hanya sekedarnya.
Sepanjang jalan ini banyak kutemukan hal-hal yang membuat ingin berbelok. Berbalik arah. Tidak jarang ingin keluar dari jalan yang seharusnya. Sepanjang jalan ini naik turun sekali.
Sepanjang jalan ini tidak ada yang pasti. Hanya penuh dengan teka-teki.
Pada sepanjang jalan ini kita dipaksakan untuk pasrah pada takdirnya. Pasrah dan tetap berusaha. Penuh kebingungan dan pertanyaan. Sepanjang jalan ini tidak ada petanya. Sepanjang jalan ini seperti bermain monopoli semasa kecil. Ada tempat yang dihindari. Ada tempat yang sangat ingin disambangi. Tapi kemudian lewat begitu saja. Kesempatan yang tidak datang dua kali apalagi berkali-kali.
Sepanjang jalan ini adalah hidup. Sepanjang jalan ini memiliki akhir layaknya segala jalan yang terdapat di muka bumi. Maka bersabarlah sebentar lagi. Tidak ada berhasil dan gagal dalam perjalanan. Selagi terus berjalan. Barangkali memang jalan yang ditempuh tidak mulus. Itu tetap jalan yang mesti diambil.
Sepanjang jalan ini mesti diteruskan. Sampai akhir. Sampai waktunya berpulang ke tempat asal.

🤩
BalasHapusawwww thanksss awsipaa
Hapus